HOME > Berita > MENJAJAL BIBIT SEMIKLONAL SRIWIJAYA

DETAIL BERITA

MENJAJAL BIBIT SEMIKLONAL SRIWIJAYA

Oleh: Atep Yulianto I.

Sumber: InfoSAWIT, vol VIII No. 6 Juni 2015


BAGI PETANI, INI BISA MENJADI KABAR BAIK LANTARAN KINI TELAH ADA BIBIT SAWIT DARI HASIL TEKNOLOGI SEMIKLONAL YANG DIYAKINI BAKAL MEMILIKI HASIL PRODUKSI TINGGI SEKALIGUS LEBIH SERAGAM.

Dalam menghasilkan bibit sawit unggul memang banyak cara bisa dilakukan, selain dengan cara konvensional juga bisa dengan menerapkan teknik kultur jaringan (tissue culture) yang saaat ini lagi tren di kalangan produsen benih sawit nasional. Cara ini memang bisa menghasilkan benih sawit unggul lebih cepat dibandingkan teknik konvensional. Namun untuk kali ini InfoSAWIT tidak membahas kecepatan dalam proses membuat benih sawit unggul, tetapi bakal membahas mengenai cara lainnya dalam menghasilkan benih sawit unggul, yakni cara semiklonal.
 Cara ini memang belum banyak dilakukan oleh produsen benih sawit nasional, kalaupun ada yang menerapkan cara ini, belum dibarengi dengan proses penelitian secara mendalam. Nah, lantaran belum banyak yang menggunakan teknik semiklonal, salah satu produsen benih sawit nasional, PT Binasawit Makmur (BSM) salah satu anak usaha PT Sampoerna Agro Tbk., telah lebih dulu mengembangkan bibit sawit dengan cara semiklonal.

Penelitian bibit sawit dengan cara semiklonal di PT BSM, kabarnya telah dilakukan semenjak 1999 silam. Memang butuh waktu tidak singkat, jika hasilnya baru didapat tahun ini, dengan terbitnya Keputusan  Dirjenbun No. 31/Kpts/KB 020/1/2015, yang diteken Direktur Jenderal Perkebunan pada 5 Januari 2015 silam, tentang penambahan pohon induk pisifera klon untuk DxP Sriwijaya 1, Sriwijaya 5 dan Sriwijaya 6. Namun lamanya waktu proses penelitian benih semiklonal itu, terbayar dengan hasil varietas benih sawit klonal untuk Sriwijaya 1, Sriwijaya 5 dan Sriwijaya 6, dengan karakteristik benih sawit yang lebih baik.

Dikatakan Direktur PT BSM, Dwi Asmono, karakteristik benih sawit dari cara semiklonal, selain  menghasilkan produktivitas tinggi, pula hasilnya diyakini bakal lebih seragam. Tentu saja dengan hasil produktivitas yang tinggi dan lebih seragam, bakal mendorong hasil produksi petani sawit nasional lebih tinggi lagi, alhasil pendapatan petani pun diyakini bakal langsung melonjak.

Lebih lanjut tutur Dwi Asmono, tidak ada perbedaan perlakuan antara benih sawit yang didapat dari cara semiklonal maupun konvensional. “Dinamakan bibit  semiklon lantaran dalam menghasilkan bibit didapat dengan cara semiklon, sementara untuk proses budidaya sama seperti bibit sawit lainnya. “ kata Dwi Asmono kepada InfoSAWIT  belum lama ini di Jakarta.

Merujuk informasi dari perusahaan, benih sawit Sriwijaya Semiklonal ini bakal mampu menghasilkan buah pasir hanya dalam waktu 24 bulan saja, atau sekitar 2 tahunan. Lantas, rata-rata produktivitas minyak bakal mencapai sekitar 7,6 - 8,5 ton/ha, dikala pohon sawit berumur 3 sampai 4 tahun.

Pada tempat-tempat terbaik (best plot), pohon kelapa sawit Sriwijaya Semiklon ini kabarnya bisa menghasilkan produktivitas minyak hingga mencapai 9 sampai 10 ton/ha, tentu saja sambil dibarengi dengan aplikasi budidaya terbaik. Untuk tingkat kerapatan pohon, jangan ditanya lantaran varietas benih sawit jenis ini dalam satu hektar (ha) mampu ditanam sebanyak 135 pokok sampai 160 pokok, ini bisa dilakukan sebab pelepah pohon sawit varietas Sriwijaya Semiklon lebih pendek.

Selain bisa ditanam dengan kerapatan lebih tinggi, pula tidak mengurangi hasil TBS per pokoknya. Terbukti hasil tandan buah sawit per pokoknya tetap banyak bisa mencapai 17 sampai 20 tandan per pokok. Bisa dibayangkan tingginya produktivitas dari varietas Sriwijaya Semiklon ini. Wajar bilamana varietas semiklon ini diyakini menjadi varietas unggulan penyempurnaan dari varietas sebelumnya. Lantaran didapat dari semiklon, varietas ini bakal tidak menggantikan varietas Sriwijaya pendahulunya, sebab kata Dwi Asmono, varietas semiklon hanya diproduksi sekitar 40 % dari total produksi benih sawit PT BSM.

Harga Ekonomis untuk Petani

Kendati produksi Sriwijaya Semiklom tidak menggantikan varietas sebelumnya, namun petani tetap bakal bisa menjajal benih sawit Sriwijaya Semiklon ini. Apalagi luas areal perkebunan kelapa sawit yang dimiliki masyarakat diyakini terus bertumbuh, kendati regulasi dan perluasan lahan sawit yang masih saja ketat.

Sebab itu pihak PT BSM, tetap menjadikan petani salah satu konsumen varietas-varietas benih sawit Sriwijaya termasuk varietas benih sawit Sriwijaya Semiklon. Kabarnya sekitar 30 % dari produksi PT BSM diprioritaskan untuk petani, tentu saja harganya pun disesuaikan alias lebih ekonomis. Tetapi Dwi Asmono memastikan, kendati harga benih sawit untuk petani lebih ekonomis tetap tidak ada pembedaan kualitas, lantaran semuanya berasal dari satu sumber produksi dan memiliki kualitas yang sama. Bahkan untuk memperkuat pasar petani, PT BSM juga telah membuka beberapa titik penjualan bibit sawit Sriwijaya di Indonesia dengan model waralaba. “Sehingga petani tidak mesti jauh untuk membeli bibit benih sawit Sriwijaya ini, ”kata Dwi.

Saat ini, seperti di wilayah Kalimantan Selatan sudah ada penyedia bibit Sriwijaya, sehingga petani tidak lagi memesan dalam bentuk benih tetapi sudah dalam bentuk bibit  siap tanam, baik bibit masih tahap pre-nursery ataupun main nursey. Tetapi PT BSM tidak hanya menjual benih atau bibi begitu saja, sebab bagi pembeli petani bakal mendapat  bantuan teknis agronomi, sehingga bibit sawit Sriwijaya yang sudah dibeli bakal menghasilkan produktivitas tinggi.

Bahkan guna memastikan benih sawit yang dijualnya mampu menghasilkan produktivitas tinggi, pihak PT BSM pula menyediakan tim rekomendasi untuk proses penanaman hingga pelayanan analisis tanah, daun dan analisis pupuk.

Sampoerna Agro