HOME > Berita > APA ITU BENIH KELAPA SAWIT SEMIKLON ?

DETAIL BERITA

APA ITU BENIH KELAPA SAWIT SEMIKLON ?

Oleh: Atep Yulianto I.

Sumber: InfoSAWIT, vol VIII No. 6 Juni 2015

DIAKUI BANYAK CARA GUNA MENDAPATKAN BENIH SAWIT UNGGUL, SALAH SATUNYA DENGAN MENERAPKAN CARA SEMIKLON. DARI RISET YANG DILAKUKAN MENUNJUKAN VARIETAS SEMIKLON MEMILIKI HASIL LEBIH SERAGAM DAN TERHINDAR DARI POHON CACAT.

SEBETULNYA APA SIH BENIH SAWIT SEMIKLON ITU?

Guna menghasilkan bahan tanaman unggul bisa dilakukan dengan beberapa alternatif, bisa menggunakan cara konvensional, atau kultur jaringan (tissue culture) atau menghasilkan benih sawit lewat jaringan tanaman. Namun faktanya ada cara lain yang juga diyakini bisa menghasilkan benih sawit unggul, semisal lewat pengembangan  benih semiklonal.

Dalam metode ini, pohon sawit jenis pisifera yang dijadikan induk didapat dengan cara kultur jaringan. Sementara induk dura didapat dari hasil konvensional, kemudian keduanya disilangkan secara konvensional. Pada proses ini pemilian induk sebagian besar dilakukan dengan teknik Spesific Combining Ability (SCA).

Merujuk riset yang dilakukan  tim riset dari PT Binasawit Makmur salah satu anak usaha PT Sampoerna Agro Tbk., teknik semiklon ini memiliki beberapa keuntungan semisal, pertama, benih semiklon bakal memiliki tingkat keseragaman yang lebih tinggi lantaran penyilangan terbatas pada sejumlah kombinasi induk; kedua, biaya produksi benih jauh lebih rendah dibanding melakukan kultur jaringan sehingga harga benih tetap ekonomis; ketiga, risiko kalainan (abnormalitas) klonal sangat rendah sebab produksi plantlet terbatas pada setiap induk, lantaran dibutuhkan kultur jaringan kecil yang dibentuk untuk mengkloning  induk dengan jumlah produksi plantlet per ortet terbatas; lantas keempat, 75%  keuntungan hasil minyak diharapkan dikomparasikan dengan benih hibrida DxP konvensional.

Kata Direktur PT  Sampoerna Agro Tbk, Dwi Asmono, dengan menerapkan metode semiklon risiko kelainan (cacat) pada benih sangat rendah, selain benih sawit  yang dihasilkan lebih seragam. Sejatinya pilihan kloning bisa dilakukan pada dua indukan baik pisifera (bapak) maupun dura (ibu), namun pilihan kloning itu jatuh pada induk pisifera-nya. Kata Dwi, dengan mengkloning induk pisifera maka potensi sawit yang masih terpendam bisa lebih dimaksimalkan. “Kami memilih mengkloning  pisiferanya, walaupun dura juga memungkinkan untuk dikloning,“ kata Dwi kepada infoSAWIT belum lama ini di Jakarta.

Apa Itu Kloning?
Dari catatan tim riset  PT BSM, cloning ialah proses dimana identical atau “fotokopi” true to type  dari pohon sawit terpilih (ortet) di reproduksi oleh plantlet  yang dikembangkan dari jaringan daun  kelapa sawit tenera dengan karakteristik yang diinginkan (misalnya: hasil yang besar, ketahanan terhadap penyakit, toleransi kekeringan, dan pertumbuhan meninggi lambat). Sayangnya, terkadang hasil kultur jaringan  kerap menonjolkan ekpresi cacat pada kelapa sawit, terutama ketika embriogenesis diinduksi ke dalam kalus tertentu untuk jangka waktu yang lama. Namun saat protokol kloning cocok digunakan, peluang abnormalitas  (mantel fruitlet) semakin kecil untuk pohon kelapa sawit  DxP tenera  (misalkan untuk adrogini, hermaphroditism, parthenocarpy, kemandulan, chimera, snap kerah, bercak oranye genetik  dan lain-lain) dieliminasi.

Wajar bilamana kelainan (abnormalitas) bunga telah menjadi masalah utama dalam proses kloning minyak sawit. Oleh karena itu, catat  Tim Riset PT BSM, observasi pada perilaku pembungaan  dilakukan untuk semua bahan semiklonal di lapangan guna memastikan kinerja agronomi yang baik dari setiap kelainan bunga. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semua pohon sawit dari semiklonal berbunga normal.
Smith, Donough dan Corley (1996) menemukan bahwa panjang rachis dan indeks luas daun dapat digunakan sebagai indikator untuk kepadatan optimal. Sehubungan dengan kontrol, DxP semiklonal memiliki panjang rachis  dan indeks luas daun lebih rendah.

Sementara dari hasil penelitian menunjukkan, bahwa DxP semiklonal dari jenis tertentu bisa menghasilkan produktivitas tinggi mencapai 21,6 ton/ha, bahkan untuk keturunan silang tertentu bisa menghasilkan produktivitas mencapai 23,1 ton/ha. Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki benih semiklon, kiranya bisa menjadi salah satu pilihan bagi para petani untuk menggunakannya. Apalagi kabarnya benih semiklon ini harganya cukup ekonomis.

Sampoerna Agro